Kontrak Belajar

selamat bergabung : semester ini setidaknya saya akan masuk kelas pada beberapa mata kuliah, untuk teman2 semester dua ada kelas asas-asas sosiologi, semester empat ada teori sosiologi modern dan semester enam ada sosiologi perubahan sosial; untuk itu saya melampirkan draft kontrak kuliah untuk kita diskusikan dikelas dan bersepakat untuk menjalankannya ..

Kontrak Belajar Asas
Kontrak Belajar TSM
Kontrak Belajar Perubahan

Ikatan Sosiologi Indonesia

Publikasi Ikatan Sosiologi Indonesia 2013
Memahami Kembali Indonesia
Penyunting: Akhmad Ramdhon

Pengantar

Ide-ide Reformasi tak terasa telah berjalan satu dekade lebih. Banyak perubahan yang terjadi, desentralisasi, pemilihan umum yang terbuka, pemilihan presiden secara langsung, pemilihan kepala daerah, reformulasi regulasi, penataan kembali kelembagaan dalam skala nasional hingga regional. Transisi tersebut juga beriringan dengan ketegangan, konflik, dan kekerasan yang melanda nusantara. Indikator-indikator kemiskinan, kriminalitas, dan korupsi tiba-tiba menyeruak bersamaan dengan tumbuhnya indikator pertumbuhan ekonomi dan pembangunan dalam skala yang lebih luas. Beragam tantangan hadir bersamaan dengan momentum global untuk sesegera mungkin diadaptasi.

Melihat kembali semua gejala dan jejak perubahan yang ada dan telah terjadi dalam era Reformasi menjadi penting untuk memberi bekal pengetahuan sekaligus menjelaskan posisi strategis kita dalam berbangsa dan bernegara. Upaya mengupdate semua bentuk-bentuk pengetahuan terbaru akan menjadi modal bagi semua pihak untuk mengambil langkah-langkah terbaik bagi proses dan upaya untuk berkontribusi bagi pengejawantahan Reformasi. Perubahan yang telah berjalan mesti dilihat kembali dalam sudut pandang yang kritis agar kita punya kesempatan memperbaki dan tidak lagi mengulangi kesalahan-kesalahan masa lalu. Untuk itu, beragam kontribusi dalam bentuk temuan ide, riset, dokumentasi maupun publikasi tentang beragam perubahan yang telah terjadi satu dekade terakhir menjadi urgent untuk mengkajinya bersama-sama.

Materi dalam buku ini adalah rangkaian dari Seminar Nasional Ikatan Sosiologi Indonesia #2013, yang bertujuan untuk mempertemukan para peneliti, pengajar, pembelajar, dan peminat Sosiologi seIndonesia lewat forum ilmiah yang berkala. Kesempatan untuk bersama dalam forum akan memberi kesempatan untuk berdialog, berdiskusi, dan mempublikasi temuan-temuan terbaru dalam bidang Sosiologi.

Ada beragam hasil kajian yang hadir, dalam upayanya untuk memahami kembali Indonesia -selepas satu dekade perubahan yang dirilis bersama pekik Reformasi. Tuntutan tentang perubahan diserukan bersamaan dengan kesadaran publik untuk mempersoalkan kembali makna tradisi. Bagian Tradisi dan Perubahan, menghadirkan persoalan tradisi terkait dengan isu agraria baik dalam kasus Sanggang maupun dalam jebakan keistimewaan Yogyakarta, formalisasi tradisi di Kauman hingga proses institusionalisasi komunitas-komunitas khusus/nan modern di Makasar. Tradisi juga harus menghadapi kenyataan bahwa persoalan globalisasi juga telah menghadirkan fakta-fakta baru tentang kehidupan, untuk kemudian tradisi mampu merespons dalam bentuk-bentuk, seperti: tenun Toraja yang berupaya tetap bertahan,  pasar tradisional di Surakarta yang direvitalisasi, hingga konstruksi identitas yang bangun oleh pesantren Al-Mukmin secara kelembagaan. Disisi lain, rasionalitas menjadi mekanisme bertahan bagi para perajin di Kota Gede dan praktek-praktek kapitalisasi oleh komunitas Pasompe dengan segala konsekuensinya.

Persoalan lingkungan menjadi fokus kajian untuk melihat kembali Indonesia, yang membentang permasalahan lingkungan mulai dari kebijakan reformasi pengelolaan hutan, sertifikasi hutan dan partisipasi pengelolaan hutan di Gunung Kidul, hingga perlawanan pengelolaan hutan di Muna Sulawesi Tenggara. Ide-ide pemberdayaan didorong untuk pengelolaan semua sumber daya alam yang ada, tak hanya hutan tapi juga air di Batu Malang, nelayan, hingga strategi pengelolaan atas bencanapun harus mengalami pembaharuan. Pemberdayaan warga mutlak tak terhindarkan bersamaan dengan semangat untuk menjadikan seluruh sumber daya yang ada sebagai subjek dan bukan lagi sekedar obyek dari perubahan yang terjadi.

Kehadiran manusia yang menjadi subyek juga berlaku dalam kajian isu perempuan yang makin berupaya untuk berdaya lewat politik di Bali, teknologi Jateng-Yogyakarta, maupun rumah tangga berspektif gender di Soppeng-Bone hingga kelembagaan PKK. Namun beragam tantangan tetap menghadang ketika kepekaan belum menjadi mainstream kolektif, dimana narasi perempuan pembunuhpun perlu dipahami sebagai relasi sebab-akibat, kekerasan masih terjadi di Palembang, pekerja terburuk anak dan Ayla masih menjadi potret di Surakarta, perkawinan dibawah umur di Cianjur, hingga buruh migran di Jawa Timur.

Problem diatas tumpang-tindih dengan proses pembelajaran yang juga berlaku dalam lingkup pendidikan disekitar kita. Dimana tantangan mewujudkan pendidikan inklusi, multi kultural, pendidikan dasar anak, hingga tantangan untuk meminimalisir kekerasan dalam dunia pendidikan. Strategi pendidikan pada saat bersamaan sebenarnya juga mampu menjadi modal sosial bagi warga, yang juga dikaji lewat beragam temuan seperti: modal sosial dalam relasi ekonomi batik, falsafah Gusjigang, jejaring korban konflik di Poso, jejaring kelembagaan di Majalengka hingga revitalisasi  masyarakat di Makasar maupun pemberdayaan masyarakat di Manado.

Selain isu-isu tradisi, lingkungan, pendidikan dan modal sosial, kompleksitas buku ini juga hadir lewat kajian tentang politik citra dalam perspektif kekuasaan, seksualitas masyarakat beresiko, transformasi disiplin klinis, konstruksi sosial tubuh, konflik anak-anak muda penggemar bola hingga kultur resiko nan traumatis. Paradoks modernitas yang hadir juga menuntut penjelasan yang lebih memadai, oleh karenanya bagian akhir buku ini hadir kajian tentang restrukturisasi pendidikan Sosiologi, Neuro-Sosiologi, maupun Sosiologi di era pasca ruang. Semua kajian tersebut hadir untuk menjadi bagian dari upaya menjelaskan perubahan yang terjadi, sekaligus membangun keterlibatan lebih dalam dari bentuk-bentuk pengetahuan yang ada

Memahami Warga

Memahami Pola Kesejahteraan Bersama Warga
Penyunting, Akbarudin Arief-Akhmad Ramdhon
Penerbit Kompip Indonesia

Belajar (untuk) Berpihak
ebuah buku lama karangan Mahbub ul Haq (1982), menjadi pengingat kembali ketika harus menuliskan sebuah epilog bagi cacatan lapangan tentang persoalan kemiskinan. Sebuah buku yang memaparkan tentang realitas kehidupan masyarakat Dunia Ketiga, yang penuh dengan bekapan kemiskinan. Kemiskinan yang terdesain oleh sebuah kesadaran semu dan terbungkus oleh sebuah tatanan baru selepas Perang Dunia II berakhir. Sebuah kondisi yang general kemudian bisa kita lihat dampak kebijakannya lewat skema pembangunan yang dipaksakan di Asia, Afrika dan Amerika Latin hingga melahirkan mitologi pembangunan nan abai terhadap moralitas dan kemanusiaan.

Seakan-akan lupa dengan cacatan masa lampau tentang kesedihan manusia, Orde Pembangunan (developmentalism) tegak diatas upaya untuk mengabaikan fakta-fakta kemiskinan warganya, tegak kuasa diatas keterkungkungan dunia pers dan kukuh ditopang oleh militer sebagai eksekutor atas kebutuhan pelegallan tindakan Pemerintah. Negara yang semestinya bertanggung jawab atas kebutuhan warga kemudian menjadi pihak yang pertama kali mengkreasi kemiskinan menjadi sebuah situasi kolektif. Dengan menempatkan beragam indikator pertumbuhan pembangunan sebagai motor perubahan, semua instrumen negara menjadi pelaku terdepan untuk membungkam teriakan penderitaan yang terlalu banyak dan menggantikannya dengan angka-angka stabilitas gerak pembangunan.

Pembangunan kemudian bertransformasi menjadi ide yang mengisi setiap benak warga bangsa, tanpa kecuali.  Jargon kolektif bangsa ini serta merta menempatkan kata kemajuan linear dengan pembangunan sekaligus mengalahkan cerita-cerita kecil tentang kemiskinan, menenggelamkan kabar ketidakadilan. Kabar kemajuan didengung-dengungkan disetiap ruang-ruang pengap pendidikan yang jauh dari semangat kritis, disebar dalam pamflet-pamflet  yang diusung aparat dalam ritualitas birokrasi dan mengabarkan semua kebaikan yang akan tercapai oleh bangsa ini kepada anak-anak kita agar mereka bangga tentang bangsa yang sedang membangun ini (Kenichi Ohmae, 1995).

Pembangunan menjadi idiom yang senantiasa kita dengar bersama upaya untuk menegakkan kekuasaan yang menuntut loyalitas warga. Namun selalu ada permasalahan tiap kata pembangunan itu didengungkan oleh negara/kekuasaan yaitu relativitas makna pembangunan itu sendiri. Dari kondisi yang relatif, pembangunan sering kali mengalami distorsi pemaknaan-yang seharusnya terkandung didalamnya. Di sinilah Peter L Berger (1982) meletakkan titik tolaknya untuk melakukan kritik terhadap berbagai upaya pembangunan. Berger menuntut adanya etika yang baku ketika kita berbicara pembangunan dan standart dari etika itu adalah moralitas. Berger melihat, di negara-negara yang mengadopsi pembangunan, semua diwajibkan mengadopsi akan kemajuan, pertumbuhan, peningkatan, diferensial kelembagaan hingga pemerataan pembangunan (H.W. Arndt, 1998 : Sritua Arief dan Adi Sasono, 1984). Dan kesemuanya telah menjadi bius untuk kita semua yang kemudian selalu dituntut merasionalisasikannya.

Upaya untuk selalu merasionalisasi berbagai slogan pembangunan, menjadi blunder yang akan berimplikasi pada mitologisasi sekaligus pengsakralan tiap-tiap instrumentasi pada penegakkan kekuasaan. Berbagai mitos tersebut kemudian dilanggengkan oleh kekuasaan untuk selalu memperbaharui dan mengkonsolidasi kekuasaan. Berbagai propaganda akan pembangunan didengungkan seiring dengan tuntutan akan loyalitas dalam bentuk pengorbanan rakyat atas sebuah nama pembangunan. Yang terjadi sesudahnya adalah berbagai penindasan atas nama kemajuan, penghilangan atas hak-hak individu atas nama kolektifitas hingga pelanggaran pada rakyat atas nama penegakkan kepentingan negara. Dengan gerbong pembangunan, negara melakukan berbagai kejahatan terhadap rakyat dengan instrumen kekuasaan ataupun bentuk-bentuk lain dari antagonisme politik kekuasaan. Dan penting juga untuk ditulis, para kaum intelektual juga menjadi bagian dari penegassan kekuasaan. Dan itu semua terjadi pada setiap kata-kata pembangunan terdengar dimanapun atas dasar ideologi apapun.

Cita-cita pembangunan harus berakhir dengan sebuah realitas utopis, ketika pembangunan mengalami mitos untuk kemudian menjadi sebuah kehampaan karena berbagai penerapan sistem otoriter yang tidak memberikan ruang bagi hak-hak warga. Pembangunan telah mengambil pengorbanan yang amat banyak, biaya kemanusiaan yang harus ditebus oleh beberapa generasi, dampak psikologis dari tiap anak bangsa yang selalu trauma pada penderitaan orang tua mereka menjadi sebuah harga yang amat mahal yang harus kita tanggung atas transaksi kepentingan yang berslogankan pembangunan. Berger mengalami sendiri berbagai kontradiksi realitas akibat penegakkan kekuasaan dengan corong pembangunan.

Wacana kritik tentang pembangunan tentu tidak pernah absen, sebagai upaya menggugah kesadaran kita sebagai bangsa untuk mau belajar dan berubah. Kritik hadir untuk memberi penegasan bahwa pembangunan yang mengabaikan kolektifitas kebutuhan warganya hanya akan menjadikan narasi bangsa sebagai bangsa yang bangga oleh kisah-kisah nan indah yang dipaksakan diruang-ruang ideologi oleh negara. Namun kesadaran tentang efek gelap pembangunan tak kunjung hadir sekaligus menjadi mekanisme evaluasi atas berjalannya roda pembangunan selama tiga dekade.

Butuh krisis yang teramat besar untuk memalingkan kejumudan negeri ini atas pilihan kebijakannya yang penuh resiko. Krisislah yang membuat kesadaran baru akan keroposnya pondasi pembangunan oleh rezim Pembangunan setelah memasuki dekade tahapan pembangunan yang kelima. Bayangan akan tinggal landas kemudian tergantikan oleh situasi yang tak pernah terbanyangkan, dimana seluruh pondasi negeri terguncang oleh perubahan tak terperikan. Rezim harus tergantikan lewat pengorbanan anak-anak bangsa yang membela hak-hak mereka, disintegrasi serta merta menjadi sebuah wacana kolektif bangsa, konflik horisontal lahir dimana-mana atas beragam alasan.

Semua kebersamaan hidup yang dulu pernah ada kini berganti oleh ketakutan dan ketidak percayaan satu sama lain. Bangsa serta merta terseret oleh badai perubahan yang ada tanpa ada kemampuan untuk bertahan. Yang tersisa hari ini adalah penderitaan warga yang senantiasa terabaikan, bahkan selepas satu dekade kita mendeklarasikan Reformasi sebagai sebentuk jawaban  untuk menganulir rezim Pembangunan yang telah tumbang oleh krisis.

Peter L Berger (1980) menjadi penting karena sengaja memantik diskursus bagi kotak pandora yang belum selesai hingga kini yaitu masalah keberpihakan seorang intelektual terhadap realitas yang ada. Keberpihakan yang akan menuntut standart nilai yang seharusnya berlaku bagi intelektual apakah mereka harus berada pada sebuah ruang yang lepas dari kebenaran realitas atau meletakkan sebuah standart nilai pada sebuah realitas yang hanya menawarkan berbagai subyektifitas kebenaran. Kerja-kerja pengetahuan sedianya tak boleh terperosok dalam perdebatan tersebut tapi langsung menentukan keperpihakannya atas realitas yang dihadapinya sekaligus menuntut keterlibatan sebagai bentuk tanggung jawab intelektualitas. Sebuah keberpihakan yang didasarkan atas moralitas yang universal (Philip Quarles-Ananta Kumar, 2003).  Sekaligus mengetengahkan sebuah etika politik bagi para pengambil kebijakan, di tengah-tengah perubahan sosial yang dewasa ini sedang berlangsung di seluruh belahan bumi ini.

Inilah krisis ilmu pengetahuan yang berawal dari ketiadaan kritik empiris, dimana kebanyakan pemaknaan akan realita yang dimiliki oleh banyak ilmuwan sosial tak bermuara pada realitas yang ada dan situasi ini tak terpisahkan oleh sebab epistemologi ilmu yang digunakan yaitu pendekatan struktural yang menjadi maindstream bagi ilmu sosial di Indonesia (Ignas Kleden, 1984). Nalar tersebut berimplikasi pada lahirnya jarak antara kenyataan dan pengetahuan, hingga rapuhnya metode berpengetahuan yang sebenarnya menuntut pemaknaan yang serius bagi the body of knowledge dan kemudian mendapatkan pengetahuan berbasis pada kenyataan yang sesungguhnya.

Pengadaptasian pengetahuan yang terjadi hanyalah didedikasikan untuk membangun legitimasi kekuasaan politik negara atas warganya.  Terjadi diskriminasi dalam sebuah proses pembelajaran yang ada, dimana akumulasi pemahaman yang mestinya beragam dalam pola pendekatannya terhadap realitas kemudian dimonopoli dan diekspansi. Keberpihakan yang ada hanyalah manipulasi  dari sebuah upaya pelestarian akan kekuasaan yang menghabiskan tenaganya untuk mengembar-gemborkan pembangunan sebagai jalan satu-satunya (Ozay Mehmet, 1999).

Realitas kerja berpengetahuan yang seharusnya mengangkat nilai-nilai kemanusiaan kemudian tergantikan oleh penyeragaman pola pikir hingga ketakutan untuk berbeda. Perbedaan sebagai pondasi dasar dalam kehidupan kemudian harus dihilangkan dan konflik yang seharusnya ada, kemudian dipendam dalam-dalam. Kita tak pernah mengenal perbedaan dalam ruang-ruang kebudayaan yang ada, kita terkungkung oleh kebutuhan stabilitas sehingga regulasi kepentingan setiap orang sebagai bagian dari proses demokratisasi, tak terjadi. Sejarah masa lalu bangsa ini yang sangat dinamis (W.F. Wertheim, 1999) kemudian berganti dengan stabilitas masyarakat yang terciptakan oleh pengawasan aparatur negara. Penjelasan ilmu pengetahuan (sosial) terhadap realitaspun mengalami kegagapan sehingga kita kesulitan untuk menyelesaikan konflik yang terjadi dalam masyarakat hari-hari ini. Oleh sebab telah berjaraknya ilmu sosial yang ada dengan kenyataan yang terus bergerak secara dinamis, beragam masalah yang menjadi beban bangsa ini, tak terselesaikan oleh kontribusi ilmuwan sosial.

Maka menjadi penting, ketika ilmu sosial mulai mengadaptasi berbagai hal berkaitan dengan penjelasan atas perubahan yang terjadi. Kesadaran akan kebutuhan memaknai demokrasi, memahami relitas masyarakat secara intens serta tak berjarak, membangun kesadaran serta memberdayakan masyarakat atau mengkritisi kebijakan negara atas ketidak berpihakkannya terhadap publik, menjadi sebuah kebutuhan yang tak terbendung seiring dengan laju perubahan global (James Lee Ray, 1998). Beragam penjelasan terhadap realitas yang baru akan menjadi sebuah dasar dalam merespon perubahan itu sendiri. Dan disitulah kemudian ilmu pengetahuan (sosial) menemukan ruang axiologynya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari realitas kehidupan masyarakat dan ilmuwan sosial menemukan eksistensinya sebagai cendikiawan (Kuntowijoyo, 1998).

Dalam rentang perubahan yang sangat deras, kerja-kerja pengetahuan mesti mampu membangun inisiasi warga agar berdaya bila berhadapan dengan negara yang senantiasa tak bersahabat. Masyarakat yang berdaya menjadi sebuah tujuan dari proses demokrastisasi dalam alam negara yang modern, dimana masyarakat sadar akan kebutuhannya, paham akan berbagai sebaran informasi dan mampu mengambil inisiatif dalam memperjuangkan hak-haknya (Christopher Pierson, 1996). Identitas warga yang mandiri (citizenship) terbangun oleh melebarnya ruang-ruang pengetahuan yang telah diinvestasikan oleh ilmuwan sosial. Keberdayaan warga akan berujung pada orientasi  kebijakan negara yang memihak kebutuhan masyarakat secara luas dan disinilah bingkai dari peran ilmuwan sosial, menemukan kejelasannya.

Dengan pola pendekatan ekonomi-politik sebagai sebuah hipotesa, relasi antara negara dan warga dapat dikaji secara kritis sehingga beragam pola pendekatan keilmuwan yang ada, mesti jelas keberpihakkannya. Dengan pendekatan sosiologis yang menempatkan warga sebagai subyek maka kebutuhan secara metodologis untuk mengawali sebuah pendekatan yang berani berpihak dalam epistimologi pengetahuan harus segera dimulai. Problematika empiris yang menempatkan realitas masyarakat sebagai variabel yang terabaikan pada catatan masa lalu perkembangan ilmu sosial di Indonesia, mesti segera tergantikan (Samuel Haneman, 2012). Kedepan, yang harus terbangun adalah perwakilan kaum terdidik untuk belajar didalam proses kehidupan masyarakat, memahami, berdekatan, bersama-sama menikmati proses dan bersama-sama membangun kesadaran-partisipasi kognitif (Britha Mikkelsen, 1995). Sebuah kesadaran sebagai individu yang mempunyai seperangkat hak dan kewajiban, dalam relasinya dengan warga negara yang lain, dalam bingkai masyarakat yang demokratik.

Hadirnya kesadaran dalam bentuk partisipasi kognitif memungkinkan pada tiap proses kebijakkan politik, sekaligus kebebasan individu untuk mendefinisikan berbagai situasi yang mereka hadapi dan pemberdayaan lembaga-lembaga kemasyarakatan sebagai struktur perantara bagi warga dengan warga yang lain atau individu dengan kekuasaan sekaligus membangun kemampuan individu untuk merasakan makna-makna pembangunan yang semestinya. Karena itulah negara ditegakkan atas asumsi adanya kesepakatan kolektif dari individu, dimana individu kemudian menyerahkan kepercayaannya pada negara dan tidak ada yang lebih berhak mengajukan hak-kewajiban atas negara kecuali individu sebagai warga negara.

 

Perempuan Penyangga Kota: Marjinalisasi dan Eksploitasi

 

… kota kita memang makin megah dan kaya,
tapi hari sudah malam, ayo kita pulang ke rumah kontrakan,
tidur berderet-deret seperti ikan tangkapan siap dijual di pelelangan,
besok pagi kita ke pabrik kembali kerja,sarapan nasi bungkus,
ngutang, seperti biasa.
Nonton Harga,
Wiji Thukul (1996)

Kota dan Urbanisasi

Paper ini menjelaskan keterbangunan kota, lewat urbanisasi yang menggejala secara general. Urbanisasi yang terjadi menggerakkan sumber daya manusia sekaligus membentuk kota dalam bingkai ekonomis. Salah satu daya tarik kota untuk urbanisasi adalah proses industrialisasi yang tak bisa lepas dari sejarah kolonialisasi. Industrialisasi dan keberadaan sumber daya manusia (khususnya perempuan) menjadi penyangga bagi tumbuh kembang kota-kota hari ini. Wajah kekinian kota bergerak dengan arah perubahan kota layaknya kota-kota di Eropa. Kondisi tersebut sebagai bagian yang tak terhindarkan atas lamanya masa-masa kolonialisasi. Analisa atas perkembangan kota kemudian dikategorikan menjadi empat periode dalam sejarah yaitu periode sebelum perdagangan dunia, periode perdagangan ekspansif, masa revolusi industri, pergeseran kapital dan periode pasca PD II. Dampak keberadaan kolonialisasi terasa sejak masa ketiga fase perkembangan kota dan mulai menyurut selepas kemerdekaan dialami oleh berbagai negara-negara belahan Dunia Ketiga (Nas, 1997 & 2012). Pergerakan dinamika kota dekolonialisasi kemudian mengalami kecenderungan yang kurang lebih sama dengan trend perkembangan kota-kota di Eropa yang telah mapan sebelumnya yaitu menjalarnya urbanisasi. Dimana kota menjadi konsentrasi atas banyak aspek kehidupan manusia, dengan beragam kebutuhan yang menyertainya.

Pergerakan manusia yang terkonsentrasi ke dan menuju perkotaan (urban) menjadi bentuk konkret atas perkembangan kota-kota awal abad 20-an hingga kini. Perpindahan penduduk ke kota (berbagai bentuk migrasi; ulang-balik ; menetap) diikuti pertumbuhan pemukiman oleh sebab meningkatnya persentase jumlah penduduk kota yang kemudian menjadi konsepsi dasar tentang urbanisasi (Kitagawa, 1998). Pada beberapa kasus di beberapa negara berkembang potret urbanisasi merupakan proses yang berjalan secara terus menerus dan tidak dapat ditekan laju pergerakannya. Ada beragam kekuatan yang menyebabkan proses tersebut berjalan secara simultan oleh sebab dinamika kota yang semakin lanjut, sebagai efek dari adanya kolonialisasi dimana kota tumbuh dan dijadikan pusat konsentrasi atas penguasaan dan pengelolaan daerah jajahan. Dan situasi tersebut masih tetap bertahan sekalipun telah terjadi proses dekolonialisasi. Teknologi yang tersedia dan hanya dapat diakses di kota semata-mata menyebabkan terpusatnya berbagai inovasi teknologi manusia di ranah kota. Pertumbuhan penduduk secara keseluruhan menunjukkan peran dalam mempertegas pentingnya arti dan makna kota bagi penghidupan. Di negara-negara maju, lalu lintas penduduk dalam negeri atau dari/ke kota menjadi alasan atas tingginya laju urbanisasi disamping meningkatnya jumlah pendapatan/upah diwilayah perkotaan. Berbeda dengan kasus-kasus pada negara-negara berkembang dimana perubahan penduduk secara alami merupakan selisih jumlah antara kelahiran dan kematian yang menjadi variabel dominan untuk mendorong laju urbanisasi, selain faktor ketimpangan pembangunan (Knox, 1982).

Ada banyak paparan tentang kuantifikasi fenomena urbanisasi dan dinamikanya di berbagai belahan dunia.  Efek urbanisasi tampak pada tahun 1960 ketika kenaikan atas meningkatnya jumlah penduduk kota mencapai kisaran angka 51.6 juta menjadi 590 juta atau meningkat 20%. Dimana fakta lain tentang urbanisasi adalah tentang level urbanisasi (persentase jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan dibagi dengan jumlah penduduk secara keseluruhan) dan pada kasus Indonesia terdapat kenaikan yang konstan: 1960 terdapat 15%, 1970 terdapat 17%, 1980 terdapat 22% dan 1990 terdapat 31%.   Pada saat ini, sekitar 43% penduduk dunia tinggal di daerah perkotaan, dimana di negara-negara maju terdapat 93% dan di negara-negara berkembang terdapat 34%. Sehingga kalo dikalkulasi periode 1950-1990 terdapat 2,3 milyar dan 1990-2020 diperkirakan terdapat 4,6 milyar penduduk akan menghuni kota (Nurmandi, 1999). Kondisi tersebut tak terhindarkan, akibat pemusatan beberapa sektor kehidupan seperti perdagangan, industri, pendidikan hingga politik menjadi penyebab utama signifikansi angka-angka tersebut akibatnya kota makin dinamis dan kompleks atas berbagai hal.

 

Urbanisasi dan Pertumbuhan Kota

Kawasan kota sebagai mekanisme perekonomian secara tidak langsung adalah sebagai konsekuensi dari perkembangan sektor pertanian yang memperoleh pencapaian hasil pertanian secara maksimal bahkan kelebihan/surplus sekaligus mampu menstimulan perkembangan pasar sebagai bentuk transaksi atas pertemuan-pertemuan aktivitas ekonomi. Akumulasi atas kondisi ini menstimulan pula pengelompokkan masyarakat di luar sektor pertanian dan pada saat yang bersamaan proses industrialisasi (awal) melebar. Pembagian kerja dan spesialisasi kemudian menjadi ciri masyarakat yang membentuk kota-kota industri disamping terstratifikasinya pola pendapatan dan pola konsumsi masyarakat dalam struktur ekonomi berbasis non agraris. Proses tersebut menjadi penanda bagi terjadinya transisi dari ekonomi tradisional ke modern (Lindblad, 2002; Zanden dan Marks, 2012). Kondisi ekonomi modern yang mapan, membutuhkan pola pengaturan atas berbagai hal dan tata pemerintahan kemudian menjadi jalan keluar atas persoalan ini. Kawasan kota kemudian menjadi satuan-satuan pemerintahan/manajerial dimana kondisi penduduk makin banyak, persoalan makin kompleks dan kebutuhan makin beragam. Relasi-relasi individual kemudian membutuhkan mediator dan spesialisasi pekerjaan melahirkan profesi bagi sebagian individu untuk mengatur dan menata kota, dengan segala aspeknya. Kondisi ini juga diikuti oleh dinamika ruang dalam berbagai bentuk dan maknanya dalam lingkungan dan kawasan perkotaan. Pertumbuhan ekonomi dan investasi menyeret pola pendapatan dan pola konsumsi masyarakat dalam ragam-ragam kebaharuan (Evers, 2002). Perkembangan fisik kota sangat pesat layaknya perkembangan jumlah manusia-manusia yang memilih kota sebagai aras kehidupannya. Ekonomi dan politik kota serta merta menjadi simpul atas semua kondisi teraktual kawasan perkotaan.

Potret kekinian kota selepas melewati beberapa fase: kolonialisasi yang panjang, dekolonisasi, nasionalisme dan kemerdekaan  serta merta berubah. Sebagian dari dinamika akhir kota kemudian menjadi bagian yang tak terpenggal dari sejarah masa lalu, nasionalisme dan semangat kemerdekaan kemudian menjadi latar atas berbagai kebijakan untuk melakukan nasionalisasi atas berbagai peninggalan kolonial. Wajah kota kemudian penuh dengan ambiguitas dimana sebagian bingkai kota adalah bagian panjang dari masa lalu sebuah kolonialisasi dan sebagian bingkai yang lain adalah upaya dan kerja keras kekuatan awal dari nasionalisme dan pembangunan sektor-sektor industri yang kemudian menjadi pintu awal atas berbagai dinamika perkotaan lanjut (Lindblad, 2002). Proses industrialisasi melahirkan beberapa potret tawaran kemakmuran dan sekaligus potret urbanisasi yang luar biasa. Analisa atas pembangunan dan dinamika perekonomian kota tak bisa mengabaikan proses urbanisasi sebagai daya dorong dari gerak laju pembangunan dan modernisasi. Dimana logika yang dikembangkan adalah modal dan tenaga kerja yang telah menjadi bagian serta tak bisa dipisahkan dari perkembangan sektor perdagangan, terutama perdagangan modern. Berbeda dengan kondisi tersebut di negara-negara berkembang, proses urbanisasi berjalan secara konstan namun proses industrialisasi berjalan lambat. Di sisi lain akibat proses liberalisasi dan komersialisasi atas tanah yang begitu lama oleh kolonial, berakibat pada menurunnya kemampuan dan proses produksi pada sektor pertanian. Akhirnya pertumbuhan sektor perekonomian yang transisional dari pola tradisional ke modern tetap membutuhkan waktu yang relatif lama dan lambat (Geertz, 1983).

Industri dan Marjinalisasi Perempuan

Jejak kekuasaan kemudian beralih pada Orde Baru, yang langsung membuka diri pada modal asing untuk segera melakukan stabilisasi ekonomi dengan memberlakukan UU No. 1 Tahun 1967 dan UU No. 6 Tahun 1968 sebagai upaya untuk menggerakkan kembali geliat ekonomi dengan injeksi modal paska ketidakstabilan Orde Lama (Vatikiotis, 1993; Robinson, 1986). Langkah keterbukaan akan modal asing lalu mengawali sebuah fase ekonomi yang berwajah baru yaitu ekonomi dengan fondasi modal asing  yang menempatkan diri pada pondasi struktur ekonomi non pertanian. Wajah kota berubah, dengan hadirnya berbagai infrastruktur untuk mengakselerasi agenda pembangunan yang baru seperti perhubungan, pengangkutan hingga pembangkit tenaga listrik sebagai sumber daya penggerak mesin-mesin industri. Sebagai catatan (Arndt, 1991), laju pertumbuhan rata-rata pertahun pada sektor pertanian 1960-1965: 1.4%, 1965-1970: 3.2%, 1970-1977: 4.2%, bandingkan dengan  pada  sektor industri 1960-1965: 1.7%, 1965-1970: 4.8%, 1970-1977: 11.3%. Implikasi yang nyata adalah produk domestik bruto 1969-1973, laju perbandingan pertumbuhan antara sektor manufaktur dapat mencapai 10.6% seimbang dengan sektor perdagangan dan perhotelan, mengalahkan sektor pertanian yang hanya mempunyai laju pertumbuhan rata-rata 5.6 % (Muhaimin, 1991; Wee, 2004).

Selain sektor pertambangan, sektor industri pakaian menjadi pilihan yang diminati oleh banyak penanam modal di Indonesia, terutama di Jawa. Kondisi serupa ternyata terjadi di berbagai belahan di Asia, dimana pertumbuhan kota ditopang oleh produk domestik bruto yang besar dari proses industrialisasi (Wee, 1994; Prisma, 1986). Di Indonesia pertumbuhan industrialisasi yang mempunyai kemampuan daya dongkrak ekspor yang tinggi salah satunya adalah industri pakaian jadi, tahun 1986 jumlah investasi pada usaha industri pakaian jadi meningkat secara tajam dari 1975 dengan 72 pabrik yang menyerap 2.804 pekerja, menjadi 565 pabrik dan mampu mempekerjakan kira-kira 63.575 orang pekerja yang didominasi oleh tenaga kerja perempuan di tahun 1986. Jumlah ekspor pakaian jadi dan tekstil meningkat tajam: 1985, 339.6 ton eksport pakaian jadi, yaitu 219.7 ton ekspor tekstil) menjadi 1.200.4 ton pakaian jadi-892.6 ton eksport tekstil (Wee, 1994).

Proses industrialisasi berjalan massif bersama derasnya kebijakan Orde Baru untuk mengakselerasi kemajuan. Kota-kota tumbuh bersama proses industrialisasi yang melebar dan ditopang proses urbanisasi yang tak terkendalikan. Di atas semua proses tersebut, perempuan adalah tenaga penyuplai terbanyak bagi proses tumbuh kembangnya industri di perkotaan. Industrialisasi dalam beberapa hal merubah formasi perempuan dalam banyak sektor (Brenner, 1991). Mulai dari transformasi pekerjaan yang tak lagi berbasis agraria, dimana sektor tersebut dikategorikan sebagai sektor domestik. Sektor yang hanya berpendapatan relatif murah, dengan skala pendapatan musiman, melelahkan dan berkaitan erat dengan pekerjaan domestik. Kondisi yang tak terelakkan sebagai akibat dari kebijakan arah industrialisasi massif dari subtitusi import ke ekspor. Kota-kota yang semakin penuh dengan para pendatang, juga mengalami perluasan akibat orientasi industri. Tawaran kehidupan lebih baik di perkotaan, dengan sektor industri sebagai salah satu opsi pekerjaan yang terbuka luas. Selain sektor-sektor informal yang lainnya (Murray, 1995; Jellineck, 1995; Endang & Mamahit, 1999) dan catatan ILO mengkonfirmasikan bahwa kecenderungan kaum muda yang tinggal di perkotaan terus meningkat sedangkan kecenderungan untuk tinggal di pedesaan makin berkurang. Pada tahun 1971, kaum muda yang tinggal di perkotaan dan pedesaan secara berturut-turut berkisar 21.5% dan 78.5%, sedangkan pada tahun 2002 perbedaan ini mengerucut menjadi hampir 50%. Hal ini dipengaruhi urbanisasi massal selama dua dekade terakhir dan berkembangnya kota-kota baru di Indonesia (ILO, 2004). Di sisi lain, implikasi demografis selama 30 tahun terakhir, proporsi populasi kelompok muda, baik remaja (15-19 tahun) maupun orang dewasa muda (20-24 tahun), telah meningkat dibandingkan dengan jumlah penduduk secara keseluruhan. Hal ini mengkonfirmasi adanya dominasi kelompok muda dengan jumlah yang mencapai sekitar 18% dari jumlah penduduk secara keseluruhan.

Fakta diatas mempertegas keberadaan perempuan-perempuan pedesaan yang melakukan urbanisasi untuk menyangga perkembangan sektor-sektor industri di perkotaan, seperti industri manufaktur, perdagangan dan jasa. Selain industri, sektor-sektor informal yang lainnya juga menampilkan sisi lain kehidupan perempuan perkotaan (Murray, 1995; Jellineck, 1995; Sedyaningsih dan Mamahit, 1999). Kenyataan lain dari proses urbanisasi yang terjadi juga menghadirkan narasi perempuan-perempuan minim ketrampilan yang berbondong-bondong ke kota, berharap kebaikan dikota-kota besar. Dengan ketrampilan yang terbatas, perempuan-perempuan tersebut secara otomatis tak dapat bersaing untuk ikut bekerja disektor-sektor industri perkotaan dan sektor informal menjadi pilihan paling realistis. Proses industrialisasi bersaing menjadi energi terbesar bagi pertumbuhan kota yang tak terencana dengan baik. Pertumbuhan lapangan kerja formal tak sebanding dengan gerak urbanisasi yang ada, sehingga daya tampung sektor formal sangat terbatas hanya bagi para pekerja yang memenuhi syarat angkatan kerja. Sensus Penduduk tahun 1980 mencatat sekitar 33% dari seluruh angkatan kerja yang bekerja secara aktif adalah tenaga kerja perempuan dan pada tahun 1990 tenaga kerja wanita yang aktif menjadi 34,5% (Hakim, 2011). Perluasan ini sebagai implikasi dari perluasan sektor lapangan kerja diluar sektor formal yaitu sektor informal yang terdiri dari mereka yang bekerja sendiri, buruh tidak tetap, maupun pekerja dalam lingkungan keluarga.

Di sektor industri, kelompok pekerja perempuan tersebut adalah penghasil produk-produk massal untuk kebutuhan ekspor seperti garmen, tekstil, sepatu, rokok, dan sebagainya. Target produksi yang tinggi pulalah yang menjadi daya serap terbesar para pekerja perempuan ke pabrik-pabrik perkotaan yang penuh kontradiksi. Ribuan perempuan terintegrasi dalam teknologi industri dan modal yang memacu waktu untuk menghasilkan sebanyak mungkin produk serta upah seminimal mungkin (Ken Suratiyah-dalam Abdullah, ed. 2006). Cita-cita bekerja di kota tak terasa telah menutup peluang untuk melakukan negosiasi tentang hak dan kewajiban dunia industri. Relasi pekerja dan pemodal timpang oleh lemahnya kontrol negara, sekalipun ada beberapa catatan gerakan dari serikat-serikat pekerja namun hasil akhirnya masih jauh dari harapan. Bermodalkan pendidikan yang relatif rendah, dengan basis asal kantong-kantong di pedesaan dan harapan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik memberi garansi bagi para pemodal untuk memberi tekanan lebih pada pekerja perempuan.

Sistem kerja disektor industri adalah sistem dengan kontrol yang ketat, hirarki kerja yang menempatkan perempuan di bagian produksi, jam kerja yang panjang berbasis target produksi, hingga fasilitas kesehatan yang rendah kualitasnya hingga peraturan kerja yang dibuat sepihak menciptakan nasib para pekerja untuk tunduk dan loyal. Sistem ban berjalan menjadi mekanisasi kerja berdasar sistem target produksi menciptakan ketergantungan kerja para pekerja perempuan dalam satu line kerja, yang terdiri dari 10-40 orang. Setiap orang mengerjakan pekerjaan yang berbeda, akan tetapi saling melengkapi. Kondisi tersebut memungkinkan para pekerja untuk saling menyesuaikan sistem kerja agar target produksi tercapai. Selama bekerja dilarang bicara, diatur giliran ke kamar mandi, dibatasi waktu untuk istirahat dan beribadah, hingga didenda bila melakukan kesalahan. Semuanya menjadi modus bagi proses industri untuk mengalihkan fungsi kontrol kepada buruh (Indrasari Tjandraningsih dalam Abdullah, ed. 2006).

Sistem hirarki yang berlaku, diciptakan untuk mengalihkan mekanisme kontrol secara langsung pada para pekerja. Sebagai model hirarki dibeberapa pabrik garmen, menganut sistem pembagian kerja dalam dua tingkatan, tingkatan manajerial yang komposisinya sangat terbatas dan tingkatan produksi yang jumlahnya sangat mendominasi. Hirarki tersebut secara otomatis menempatkan pekerja perempuan dibagian produksi, berdasarkan preferensi tentang ketelitian, kecermatan, kecepatan, maupun ketekunan. Dalam prosesnya, setiap bagian produksi akan mempunyai bagian tugas yang berbeda-beda. Semisal proses produksi baju maka distribusi pekerjaan akan terbagi dalam kelompok-kelompok pembuat pola, pemotong bahan, penjahit, pemasang aksesoris, pemasang label hingga pengemasan. Pola tersebut membelah para pekerja dalam kelompok yang berbeda, untuk kemudian tidak terkoneksi satu dengan lainnya. Untuk kemudian secara berkala dilakukan formasi atas dasar distribusi pekerjaan. Semua proses produksi tersebut, berdampak secara langsung dengan tingkat tanggung jawab paling rendah yang berimplikasi pada rendahnya tingkat standart upah yang harus diberikan. Dan pada saat yang bersamaan, tak adanya peluang untuk membangun kesadaran lebih baik dari individu, kelompok hingga organisasi atas proses eksploitasi yang dialami. Secara sosiologis, pola distribusi kerja yang menganut skema diatas berimplikasi pada peran masing-masing individu untuk saling mengawasi satu sama lainnya. Kecepatan hasil produksi akan ditentukan oleh kerja masing-masing individu yang berkorelasi langsung dengan upah. Pola ini memungkinkan keterbangunan relasi antar pekerja yang teramat mudah dikontrol, rentan untuk diadu domba dan pada akhirnya melemahkan kapasitas individu, kelompok maupun organisasi para pekerja perempuan.

Profil pekerja perempuan yang muda dan lajang menjadi dasar bagi strategi untuk memaksimalkan alokasi jam kerja sekaligus berimbas pada penekanan biaya produksi dalam bentuk upah yang murah. Konstruksi makna tentang perempuan memberi konstribusi bagi sistem ekonomi produksi yang menempatkan relasi pekerja perempuan hanyalah tenaga subtitusi bagi tenaga kerja laki-laki, sekaligus menempatkan struktur pekerjaan yang dilakukan hanyalah pelengkap bagi ekonomi keluarga. Peran pekerja perempuan direduksi dalam fungsi-fungsi domestik dan pada saat yang bersamaan fungsi ekonomis yang bisa dilakukan ditempatkan dalam posisi reproduksi semata. Konsepsi family wage (laki-laki adalah sumber penghasil pendapatan keluarga) dan continuity of work (kelangsungan kerja) yang permanen menjadi basis bagi rendahnya dawa tawar pekerja perempuan. Negosiasi kerja selalu akan berhadap-hadapan dengan kenyataan bawa pekerja perempuan akan mempunyai keterbatasan, baik oleh perkawinan, kehamilan, kelahiran hingga kewajiban merawat anak. Target kerja yang dipatok oleh dunia industri harus berhadap-hadapan dengan konstruksi tentang keluarga yang telah ternanam dalam masyarakat. Kebijakan-kebijakan negara (Hull, 2006) untuk mengakselerasi kapasitas perempuan tidak berkonstribusi signifikan dalam relasi para pekerja perempuan dan pemilik modal. Nasib para pekerja perempuan tak lekang berubah oleh perubahan rezim, termajinalisasi dalam kesadaran yang paling lemah dan tak ada pilihan kecuali bertahan dalam keseharian bisingnya deru mesin-mesin pabrik.

Potret perempuan kini jamak memenuhi ruas-ruas jalan di kota, berdesak-desakan dipagi yang cerah untuk berebut tidak terlambat, berduyun-duyun dengan wajah lelah di sore yang menggayut gelap, untuk kemudian mengisi malam dengan cengkrama bahagia sembari menunggu pagi untuk memulai kembali pekerjaan dan berharap dapat menghitung hari untuk gaji yang tak seberapa. Semuanya hadir sebagai bagian dari keseharian warga kota, sekaligus berdampingan dengan keinginan kota untuk membangun gedung-gedung tinggi yang menjulang, memajang produk-produk—para pekerja perempuan—di etalase dengan harga tak terjangkau, mengerek tinggi-tinggi simbol para pemodal dipapan-papan reklame, menghitung kemajuan dengan angka-angka tanpa kehadiran manusia sebagai subyek. Hari-hari ini, kota telah bergerak dan berubah, kota telah padat oleh pabrik, kota melambat dan merayap bersama para pekerja, dan kota semakin meminggirkan mereka yang tidak mampu bersaing, yaitu perempuan miskin.

Kampung Kota Kita

Kampung (Kota) Kita
Tim Sosiologi Perkotaan UNS
Penyunting: Akhmad Ramdhon
Penerbit Lab Sosio

Rumah, Kampung dan Kota

Setiap kita terbangun dalam sebuah ruang sejarah dengan dimensi yang kompleks. Dimensi yang terdiri dari narasi keakuan lewat relasi dengan kerabat, kekitaan lewat relasi dengan orang lain maupun kedirian lewat proses penyadaran diri yang berjalan terus menerus. Kesadaran yang ada lalu menjadi potret diri untuk dipajang dalam jejaring relasi sosial yang ada, dimana image diri menjadi pesan untuk orang lain untuk mempersepsikan sesuai keinginan. Interaksi berproses atas tarikan-tarikan makna antar individu dan pemaknaan atas seseorang untuk dipertentangankan dengan realitasnya sehari-hari.

Kedirian kita kemudian terbelah dalam beragam konstelasi. Jamak orang bersepakat, antara privat dan publik. Ruang-ruang tersebut kemudian secara berlahan menjadi konstruksi kedirian kita, dengan beragam atribut yang menyertainya. Privat seperti memberi batas secara tegas keberadaan diri dengan relasi yang luas, kompleks, saling menguntungkan, tak terkira, penuh dengan tanda tanya. Sedangkan makna publik kemudian menjadi sederhana karena dekat, tidak kompleks, dan sangat terbatas.

Kehadiran diri kita, bagi saya kemudian menemukan tempatnya dalam diskursus ruang. Ruang dimana diri hadir secara privat dan publik secara bersamaan. Ruang-ruang tersebut kemudian menjadi penanda kedirian kita dalam formasi rumah : bentuk, pola pintu, jenis tanaman, warna cat, nomor, jalan, rukun tetangga, rukun warga, hingga nama kampung. Kesemuanya mempunyai nalar untuk dijelaskan. Setiap pilihan yang mencipta makna dalam rumah akan disusun lewat berlapis-lapis alasan, mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling rumit. Karena disitulah konsepsi kedirian kita kemudian didefenisikan oleh orang lain. Kontekstualisasi privat serta merta menjadi indikator yang kompleks, sebab seseorang dilekatkan oleh beragam piranti tanda oleh negara, oleh lingkungan dan oleh keluarga. Dan rumah menjadi bingkai besar sekaligus batas-batas makna tentang diri kita.

Rumah Membentuk Kita : Rumah adalah bingkai kekitaan. Didalam rumah, kita menjadi pemilik sekaligus pengikat atas batas-batas kepemilikan. Rumah menjadi asal muasal sekaligus simpul bagi bangunan nilai, bangunan kedirian, termasuk kesejarahan individu yang melebar dan membentuk kekerabatan yang luas. Dari rumahlah rangkaian panjang narasi dimulai untuk dikemudian diteruskan menjadi jejak-jejak biografis. Rahasia dirakit menjadi ikatan kepercayaan sekaligus memulakan hidup dan kehidupan.

Sejarah individu dirancang dalam alam mimpi orang-orang tua lewat nama-nama yang sematkan sebagai sebuah tolakan untuk capaian tentang masa depan maupun rekaman atas makna-makna subjektif. Cerita masa lalu diperdengarkan sebagai warisan untuk titian masa depan, peristiwa lalu yang terekam dalam foto dipajang sebagai pengingat, dan petuah-petuah kemulian didendangkan sambil mengiringi larutnya malam. Canda cerita dirangkaikan dalam keseharian bersama narasi-narasi monumental yang mengikuti siklus kalender untuk menikmati hari libur, berkumpul dengan kerabat, arisan kampung, jadwal pertemuan muda-mudi, hingga hajatan tetangga, untuk kemudian mengulanginya kembali pada tahun yang akan datang.

Didalam rumah pula semuanya dilakukan : memilih apa yang mau kita makan, memakannya bersama-sama, berbincang, merancang cita-cita, mandi serta mencuci setiap hari, dan beragam kegiatan yang lain. Yang secara rutin kita melakukannya. Semuanya menjadi asal muasal dari sebuah aktivitas yang akan memberi dampak bagi aktivitas publik. Dari rumah, potret diri yang ideal dirangkai secara detil untuk dikenakan, mulai pasta gigi, sabun, sampho, minyak rambut, baju dalam, baju yang telah disterika, celana yang telah rapi, lengkap dengan gesper, sepatu beserta kaos kaki. Layaknya make-up maka utuhlah konsep diri kita kemudian. Sebuah kondisi yang seragam, yang terjadi disetiap balik pintu yang tertutup rapat, hampir pada saat yang bersamaan. Serentak dalam hitungan waktu-waktu yang diakumulasikan.

Yang berbeda, dari luar hanyalah pagar yang melintang pada setiap rumah. Pagar seakan-akan menjadi batas pembeda dari satu ruang ke ruang yang lain. Pagar disiapkan dalam kepentingan imaji pemasangnya, imaji tentang keterbukaan, persaudaraan, kepemilikan, kemampuan maupun keamanan. Pagar dihias dalam berbagai motif untuk menyampaikan pesan tentang seisi rumah kepada tetangga, orang yang melintas, pengemis yang mengantri maupun pengamen yang berdendang menunggu segelintir uang logam. Pesan tentang konsep diri kita agar bisa dipahami secara instan.

Pagar lantas urgent karena berada dilingkar paling luar dari rumah. Simpul paling krusial untuk membuat penegasan batas domestik dan privat agar menemukan penjelasannya lewat pagar yang dirangkai didepan rumah. Variasi bentuknya merupakan ekspresi perbedaan yang terdapat didalam rumah. Entah itu akan berkaitan dengan praktek tentang relasi ketetanggaan, ide kapital yang telah terakumulasikan, sekaligus menjadi batas penegas otoritasisasi ruang. Pagar mentransisikan sebuah proses interaksi yang ada, dimana seseorang boleh atau tidak melanjutkannya menjadi pola hubungan lebih lanjut. Rangkaian rumah dengan pagar adalah tempat untuk memulai sekaligus untuk mengakhiri. Bermulanya semua perbicangan kita akan berakhir dengan batasan pagar lalu rumah maupun sebaliknya.

Rumah dan pagar, tak luput pula dari perubahan yang diberbincangkan oleh para teoritisi. Perubahan sebagai keniscayaan tentang sifat dasar manusia untuk berubah. Rekaman perubahan sejatinya terentang teramat panjang namun kenyataan hari ini adalah bagian yang terpisah dari catatan tentang kesadaran manusia tentang akal budi, kebebasan, demokrasi, kapitalisme hingga teknologi. Realitas paling akhir dan kenyataan yang kita hadapi sekarang adalah tarik ulur atas kondisi tersebut.

Kesemuanya bertransformasi, mencari bentuk untuk mengakselerasi keberadaan maupun kebutuhan manusia yang telah teradministrasi baik secara politik, ekonomi dan budaya. Serta menstimulasi proses mobilisasi manusia dalam jumlah yang banyak menuju titik-titik yang menyimpul semua kepentingan yang ada dalam bentuk urban. Terdistribusikannya semangat manusia modern menciptakan mekanisme pencarian kebutuhan hidup diluar sistem masa lalu dan menuntut ruang-ruang baru dari keberadaan zaman untuk menyediakan berbagai harapan tersebut. Modernitas seakan-akan diwakili oleh fenomena terbentuknya kota dan masyarakat kota, sebab kehadirannya menjadi magnet atas gerak mobilisasi dengan beragam kebutuhan : diranah ekonomi, kota menyediakan sarana pemenuhan kebutuhan hidup lewat beragam bentuk, diranah kota pula budaya menjadi bagian dari distribusi aset-aset manusia untuk pembentukkan identitas. Dan dikota pula kita menemukan konstruksi atas kehidupan yang menjanjikan tawaran-tawaran lebih baik dengan semua mekanisme pemenuhannya.

Kita membentuk rumah : Realitas yang dinamis juga mengakselerasi tumbuh kembangnya rumah-rumah kita. Progresivitas kota dan masyarakat kota menjadi potret tentang bagaimana rumah berubah lalu menjadi bagian tersendiri dari peradaban manusia. Rumah terbentuk dengan pola berduyun-duyun memadat disisi jalan yang semakin memanjang, berjejal-jejal dengan rumah yang dirombak secara paksa menjadi tempat-tempat pertukaran komoditi manusia modern. Pergerakan untuk perubahan tak lagi dimonopoli oleh manusia semata karena ruang-rumahpun mengalami hal sama sebab pergeseran yang sesungguhnya adalah pergeseran peta mental manusia modern.

Epistem keterbangunan rumah dan pagarnya sebagai sejarah tak lagi ada karena esensi rumah kini hadir dalam bentuk-bentuk pilihan pragmatis. Pilihan yang akan menentukan standart kelas sosial, pilihan untuk menempatkan diri dalam cluster sosial yang baru, maupun pilihan untuk membuat hidup semakin mudah. Kategorisasi dibuat sebagai landskap bagi tatanan ruang-rumah ditengah-tengah kota yang semakin melebar. Identitas baru disematkan sebagai susulan atas bangunan identitas fisik yang telah mendahuluinya. Sejarah tak lagi harus memuat masa lalu sebab masa kini sudah menjadi masa lalu. Pesan-pesan mulia yang dipajang ada disetiap teras rumah adalah narasi masa depan yang penuh dengan kegembiraan.

Rumah baru dan pagar baru adalah perayaan tentang kegembiraan. Kegembiraan atas kontraprestasi nalar-nalar modern yang terbirokrastisasi. Rumah menjadi sepi dan rapuh oleh minimnya aktivitas keseharian manusia. Tak ada lagi cerita yang diperdengarkan dari yang dulu ke yang kini, karena senyap telah merambat semenjak jam di dinding menjadi penanda dan mempercepat derak kehidupan. Keramaian rumah hanya dipenuhi oleh pertukaran-pertukaran waktu dan uang untuk menjadi tanda adanya kehidupan dirumah-rumah yang semakin membesar dan meningkat. Bagian-bagian rumah hanyalah ruang tanpa makna karena tak ada lagi aktivitas didalamnya. Berbagai tanda kebanggaan dipajang untuk dinikmati dalam kesendiriannya dan semuanya semakin tenggelam oleh menebal, meninggi dan menguatnya pagar-pagar rumah dikampung.

Sisi lain yang semakin menakutkan hadir lewat desakan arus komoditi yang tak terbendung, mengglontor seisi rumah-rumah kita lewat pesan maupun panduan tentang semua kebaikan menjadi manusia modern : sebaiknya kita minum apa, efek positif makanan tertentu, mengidentifikasi rambut dengan jenis shampo yang sesuai, mengurai kandungan dalam sejumlah susu formula yang tepat untuk anak-anak kita, sekaligus menyesuaikannya dengan cita-citanya kelak. Semuanya tersedia dalam sesaat lalu menjadi alasan bagi kita untuk memilih dengan alasan yang kita susun kemudian. Formasi nilai barupun diciptakan untuk menentukan standart hasrat yang harus sesegera mungkin dipenuhi dan identitas kita dibentuk dari dalam rumah. Yang sedang terjadi adalah terobjektivikasikannya semua hasil produksi-kapital menjadi sebuah kode-kode yang menstimulasi kebutuhan konsumsi kita. Kebutuhan seisi rumah dan kehidupan kita, kini ditentukan oleh struktur yang hanya memberi ruang bagi insting kita untuk segera memenuhinya dan tak lagi punya kemampuan menolak.

Rumah berubah menjadi penuh-sesak dengan apa yang sudah dibeli, apa yang akan dikonsumsi dan catatan tentang apa saja yang harus konsumsi keesekon harinya. Pada saat bersamaan, jejaring kode yang secara intens menjerat untuk menerima panduan tak bisa dihindari. Kita tak bisa lepas dari hamparan tawaran yang membentang, terdengar ditelinga hingga tampak pada setiap pandangan diarahkan. Sebuah kondisi yang ekstrim, yang tidak memungkinkan hadirnya pilihan-pilihan yang lain kecuali mengadopsinya sebagai nilai-komoditi untuk kemudian mengkonsumsinya. Karena konsumsi juga sebuah penanda baru bagi masyarakat modern.

Energi hidup lalu terserap dalam dalam upaya-upaya pemenuhan hasrat semata. Rantai jejaring individu semakin rentan untuk putus karena bingkai-bingkai sosial retak oleh formasi pagar rumah yang terbaharui. Jarak yang dibentuk oleh kepentingan status tak terasa semakin melebar. Asing dan terasing menjadi pola relasi satu sama lain. Intensi dalam rumah yang tak lagi bisa dipertahankan kini ikut memendar keluar pagar dan merangsek rumah-pagar yang lainnya. Tak ada lagi tegur sapa, tak ada lagi kesempatan sejenak berbicang, tak ada lagi alokasi untuk menghabiskan waktu dengan sia-sia sebab semuanya telah terjadwal, tertarget dan terukur. Skala waktu menjadi daya tolak untuk melakoni hidup sehingga semua terasa terburu-buru, mendesak dan tak cukup untuk menghela nafas, apalagi rehat.

Nalar kehidupan masyarakat kampung dan kota seakan-akan mutlak rasional. Budaya yang terteknologisasi tak memberi ruang bagi emosi dan kesadaran tentang makna. Irasionalitas hadir dalam bentuk lain dan terasa masuk akal karena menjadi komoditi baru dengan jargon-jargon yang diedukasikan secara massif. Tuntutan agar semuanya rasional otomatis mengabaikan kemungkinan-kemungkinan lain dan kondisi ini menjadi teror yang terus menerus diingatkan oleh kepentingan akumulatif dan kompetisi yang seakan-akan tiada akhir.

Konflik mengalami signifikasinya. Tarikan domestik ke publik dan sebaliknya menjadi pelengkap bagi kebingungan-kebingungan tentang arah peradaban. Mekanisme yang memacu semangat untuk berkompetisi lalu meniadakan kehadiran yang lain, sebuah kondisi yang mengingatkan kita tentang teks-teks klasik absennya hukum dan absolutnya kekuasaan. Persoalan sederhana lalu memicu gelombang konflik yang besar, bahkan terlalu besar pada beberapa rekaman yang bisa kita lihat di media-media. Tatapan terhadap pesan-pesan horor terasa hambar karena atensi yang tak lekang hadir terus menerus. Pesan-pesan horor tidak lagi dimonopoli pelaku kejahatan namun telah meluas menjadi bentuk-bentuk kebanggan baru dalam masyarakat yang senantiasa terawasi oleh teknologi media yang merekamnya tiada henti.

Pembiaran ada dimana-mana. Praktek kekerasan menjadi cara paling mudah untuk berkonflik dan upaya untuk menyelesaikan konflikpun tak tersedia opsi yang memadai sehingga imaji yang terserap dalam lamunan-lamunan di depan kotak televisi menjadi pilihan. Pagar-pagar kampung yang merapat sebagai sekat-sekat domestik hanya menyisakan ruang-ruang konflik yang penuh semangat untuk duel dan tak memberi kesempatan orang lain menengahi. Aparat tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya dan penuh dengan olok-olok kelemahan. Tak ada lagi keteladanan yang mesti dijadikan rujukan sebab teror didistribusikan oleh figur-figur yang seharusnya melakukan kendali atas realitas.

Eksistensi rumah semakin rapuh. Tak sama dengan menebalnya fisik rumah-pagar, mentalitas yang terbangun luluh oleh kenyataan-kenyataan yang senantiasa pilu. Kepiluan lalu menjadi maenstrim untuk dikomoditikan. Kisah-kisah domestik tersebar karena dirasa penting. Kejadian nun jauh dan tiada urgensinya tiba-tiba dihadirkan agar setiap kita sadar lalu terlibat. Alam sadar kita diasupi dengan ragam info yang tiada guna kecuali kita menganggapnya layak untuk dipahami. Dan anehnya, kenyataan tersebut dianggap krusial buktinya adalah membanjirnya  semua realitas semu dalam rumah-rumah kita. Dimulai dari terbuka kelopak mata maka sajian-sajian untuk diserap sudah tersedia dan tak akan habis sampai kita memulai menutup mata karena lelah. Kondisi yang senantiasa berulang dalam hitungan waktu.

Tak ada lagi kesempatan untuk untuk merenung sebab berdiam diri adalah kesalahan. Kerja, kerja dan kerja yang melintas dalam otak-otak kita. Kondisi yang bisa dimaklumi mengingat sangat sistematisnya pendidikan merancang kemungkinan-kemungkinan terburuk dari kegagalan. Ketidakmampuan lalu jarang kita temui sebab setiap kita merasa mampu. Berpengetahuan harus senantiasa liner dengan kompensasinya karena hidup adalah memperbincangkan hasil lalu menumpuk-numpuk kapital sebagai tujuan akhir. Dan itulah yang ditanamkan dikelas-kelas, yang diingatkan ketika keluar rumah dan yang diburu ketika berada dalam jejaring sosial yang ada. Tak ada lagi makna pelayanan layaknya anak kepada orang tua, seperti relasi suami-istri maupun alam kepada kehidupan.

Rumah kita adalah bagian dari yang lain. Rumah menjadi persinggahan diantara kompleksitas kehidupan manusia modern. Rumah harus menjadi konteks bagi kehidupan sosial yang kita miliki. Kehidupan dengan keseharian yang sederhana : bertegur sapa, menyapu sampah, membagi makanan, berbagi kabar, mengantar oleh-oleh, mendengar bentakan, berbagi suara televisi, hingga berkumpul dalam rangkaian ritual arisan, tahlilan maupun jagongan ala kadarnya. Begitulah rumah hadir menjadi penanda bagi kita dalam konteks ruang. Ruang nan familiar yang jamak kita sebut kampung. Kampung lalu menegaskan kedirian kita dalam relasi sejarah, kekerabatan, kebiasaan maupun relasi tali temali identitas.

Kampung-kampung kita hari ini telah ada, sebelum kita. Menjadi wajar setiap rumah adalah sejarah, setiap kita bagian dari sejarah yang sedang berjalan, dan membentuk narasi tentang kampung. Setiap kampung lalu hadir menegaskan kediriannya dalam relasi yang lebih luas, berjejaring dengan kampung yang lain. Semuanya membentuk simpul-simpul kebiasaan dalam pola untuk memenuhi setiap jengkal kebutuhan hidup. Rumah dikampung harusnya menjadi jeda bagi detak kehidupan yang terasa sesak. Jeda untuk bisa menikmati tegur sapa, menyapu sampah, membagi makanan, berbagi kabar, mengantar oleh-oleh, mendengar bentakan, berbagi suara televisi, hingga berkumpul dalam rangkaian ritual arisan, tahlilan maupun jagongan ala kadarnya.

Rumah, kampung dan kota kini berjejal. Berdesakan untuk meletakkan setiap kita menjadi pelaku yang tak sadar dalam skenario kota. Rumah, kampung dan kota kini melebur oleh perubahan. Perubahan yang berbasis pada nalar ekonomi dan teknologi. Rumah dikampung tak lagi terasa longgar, kampung dikota tak terasa lagi ramah, dan kota-kota kita hari penuh dengan tumpukan rasa cemas. Semuanya menjadi terburu-buru oleh jadwal aktivitas didalam rumah, keengganan untuk menjenguk tetangga dan terasing dalam kota. Rumah dikampung kota kemudian hadir dalam deretan angka, tak lebih tak kurang dan teradministrasikan oleh birokrasi modern.

Kini, makna hidup layaknya pandora dengan ujung kebingungan. Pilihan-pilihan tentang kemuliaan adalah minor. Sebab kesadaran tak lagi berbenih sehingga meminimalisir kesempatan untuk berbuat kebaikan. Kenyataan yang ada disekitar kita senantiasa berubah namun jaminan tentang kebaikan-kebaikan sebagai sebab akibat dilirisnya akal budi seperti hambar. Namun jikalau diajukan pertanyaan : masih tersisakah ruang-ruang untuk merangkai keyakinan tentang hidup dan kehidupan yang lebih baik ? Semoga masih ..

 

Tugas Kelas

Bagi teman2, silahkan tugasnya  publikasikan di blog anda masing2 lalu mempostingkan url-nya ke comment blog saya dibawah ini : trims

Info Baik

Untuk teman2, silahkan menyesuiakan panduan uns social network :

https://docs.google.com/file/d/0B5SmSqBrBpgBb0ROdnhkMkIzRnc/edit

Pesan (baru) dari Sebuah Papan Lama ..

    dia membuka halaman-halaman ketikan baru
dan mulai membaca  mitologis dunia
: Dunia Sophie
, Jostein Gaarder

Sebuah papan tampak kusam terhalang rimbunnya pepohonan yang nampak dominan disebuah halaman disalah satu fakultas di universitas sebelas maret. Papan dengan template yang agak lampau seakan-akan sedang menunjukkan sebuah kondisi yang tak terlalu penting untuk diabaikan ditengah riuh rendahnya semua agenda yang sedang dirilis lewat beragam media. Papan dengan format pesan yang seakan-akan tidak mampu mencuri perhatian kita karena kondisinya yang memang tidak dibuat untuk mampu menarik perhatian. Papan yang secara tidak sengaja terselip diantara semangat, komitmen dan kemauan kita untuk mendedikasikan diri pada rangkaian pengetahuan yang terbalut dalam proses belajar-mengajar di universitas. Papan tersebut menyisakan teks yang mulai kabur karena termakan usia : berupa wawasan almamater. Wawasan almamater adalah konsepsi yang mengandung angapan-anggapan sebagai berikut : [1] Perguruan tinggi harus benar-benar merupakan lembaga ilmiah sedang kampus harus benar-benar merupakan masyarakat ilmiah, [2] Perguruan tinggi sebagai almamater (ibu asuh) merupakan satu kesatuan yang bulat dan mandiri dibawah pimpinan Rektor sebagai pemimpin utama, [3] Keempat unsur sivitas akademika yakni pengajar, karyawan, administrasi, mahasiswa dan alumnus harus manunggal dengan almamater harus berbakti kepadanya dan almamater mengabdi kepada rakyat, bangsa dan negara dengan jalan melaksanakan tri dharma perguruan tinggi, [4] Keemapt unsur civitas akademika dalam upaya menegakkan perguruan tinggi sebagai lembaga ilmiah dan kampus sebagai masayarakat ilmiah melaksanakan tri karya yaitu : institutionalisasi, profesionalisasi dan transpolitisasi, [5] Tatakrama perguruan tinggi didalam lingkungan perguruan tinggi dan kampus didasarkan atas asas kekeluargaan serta menjujung tinggi keselarasan dan kesimbangan sesuai dengan pandangan hidup Pancasila.

Siapapun anda, mungkin telah menjadi rangkaian panjang dari upaya universitas untuk merealisasikan apa-apa yang tertera pada papan nan lapuk tersebut dan saya beserta beberapa yang lain mungkin adalah bagian baru dalam rangkaian : yang akan menegaskan kepada kita tentang keniscayaan sebuah siklus perubahan. Jujur untuk diakui, mendiskusikan pesan pada papan tersebut seperti sedang mengajukan sebuah tuntutan atas masa lalu sekaligus masa depan secara bersamaan sebab rangkaian pesan tersebut adalah sebuah harapan dari masa lalu dan tantangan bagi masa kini untuk juga mewujudkannya, sebuah kondisi yang berlaku kontinum. Kontinum karena setiap moment nan kolektif adalah rangkaian upaya yang penuh ambisi untuk merealisasikan harapan-harapan tersebut.

Harapan tentang pengetahuan sebagai ethos bagi manusia untuk hidup dan kehidupan. Sejarah peradaban manusia kemudian dicatat dalam sebuah rekaman atas proses tumbuh kembangnya pengetahuan dalam upayanya untuk memenuhi beragam kebutuhan dan tantangan kehidupan. Pengetahuan kemudian menjadi penanda bagi manusia yang sekaligus membedakannya dengan mahluk yang lain, yang membangun peradabannya sendiri. Peradaban dengan pengetahuan sebagai pondasinya dan bangunan pengetahuan tersebut terurai ke dalam berbagai ruang, dimana universitas sebagai sebuah ruang-pengetahuan menjadi epistem bagi keterbangunan kelembagaan, nilai, kultur maupun ideologi. Untuk itu semualah ruang yang semestinya ada adalah ruang-akademik dengan masyarakat yang juga akademis/akademeia. Sebuah kondisi dimana rasa keingintahuan didistribusikan, kebenaran dipertanyakan kembali hingga keragu-raguan yang menjadi energi dari setiap tindakan untuk berpengetahuan. Pengetahuan yang diolah agar setiap kita bisa bijaksana, pengetahuan agar nilai-nilai kemanusiaan tetap hadir dalam setiap makna dalam relasi individu dan dengan berpengetahuanlah kebebasan menemui format dasarnya. Format untuk membangun karakter, orientasi dan tatanan peradaban individu-masyarakat.

Oleh karenanya menjadi persoalan ketika realitas pengetahuan disekitar kita yang mengangkat nilai-nilai kemanusiaan kemudian tergantikan oleh penyeragaman pola pikir, pemaksaan keyakinan hingga ketakutan untuk berbeda. Perbedaan sebagai pondasi dasar kehidupan lalu dipaksakan untuk dihilangkan dan konflik yang seharusnya ada kemudian dipendam dalam-dalam. Kita tak pernah mengenal perbedaan dalam ruang-ruang kebudayaan yang ada, kita terkungkung oleh kebutuhan stabilitas sehingga regulasi kepentingan setiap orang sebagai bagian dari proses demokratisasi, tak terjadi. Sejarah masa lalu bangsa yang sangat dinamis kemudian berganti dengan stabilitas masyarakat yang terciptakan oleh pengawasan aparatus kekuasaan. Penjelasan pengetahuan terhadap realitaspun mengalami stagnasi bahkan kegagalan sehingga kita kesulitan untuk menyelesaikan persoalan yang ada disekitar kita yang senantiasa tumpang tindih. Oleh sebab berjaraknya pengetahuan [logika, metode, terapan] yang ada dengan kenyataan yang terus bergerak secara dinamis maka terasa wajar bila beragam masalah yang menjadi beban bangsa ini tak terselesaikan oleh kontribusi orang-orang yang berpengetahuan.

Maka menjadi penting ketika proses berpengetahuan kita sesegera mungkin mengadaptasi berbagai hal berkaitan dengan penjelasan atas perubahan yang terjadi. Kesadaran akan kebutuhan memaknai kembali konsepsi bernegara-berdemokrasi, memahami realitas masyarakat secara intens serta tak berjarak, membangun kesadaran serta memberdayakan masyarakat hingga menggugat negara atas ketidakberpihakannya terhadap publik menjadi sebuah kebutuhan yang tak terbendung seiring dengan laju perubahan global, yang mau tak mau civitas akademika mesti menyesuaikannya. Beragam penjelasan terhadap realitas yang baru akan menjadi sebuah dasar dalam merespon perubahan itu sendiri dan pada posisi itulah pengetahuan menemukan ruang axiologynya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari realitas kehidupan masyarakat dan para akademisi menemukan eksistensinya sebagai kaum cendekia nan ideologis.

Pengetahuan beserta masyarakatnya mesti mengambil peran untuk memfasilitasi masyarakat (publik) dalam relasinya dengan negara yang semakin mempunyai kecenderungan untuk mengabaikan peran dan kebutuhan warganya. Dalam rentang perubahan yang sangat deras, keterlibatan masyarakat akademis mesti mampu membangun inisiasi masyarakat agar berdaya bila berhadapan dengan negara yang makin tak bersahabat. Karena masyarakat yang berdaya menjadi sebuah tujuan dari proses demokrastisasi dalam alam negara yang modern, dimana masyarakat sadar akan kebutuhannya, paham akan berbagai sebaran informasi dan mampu mengambil inisiatif dalam memperjuangkan hak-haknya. Identitas masyarakat yang mandiri, terbangun oleh melebarnya ruang-ruang pengetahuan yang telah diinvestasikan oleh pengetahuan. Keberdayaan masyarakat akan berujung pada kendali orientasi kebijakan negara untuk memihak pada kebutuhan masyarakat secara luas dan disinilah bingkai dari peran masyarakat akademis, menemukan kejelasannya.

Dengan pola pendekatan ekonomi-politik sebagai sebuah hipotesa, relasi antara negara dan masyarakat dikaji secara kritis sehingga beragam pola pendekatan keilmuwan yang ada mesti jelas keberpihakkannya. Dalam banyak kasus, kajian yang memihak pada kebutuhan lokalitas masyarakat dan mengembangkan budaya baru terlalu minim bila harus berbanding dengan dominasi wacana strukturalis, dengan segala turunan pendekatannya. Dengan pendekatan sosiologis yang menempatkan masyarakat sebagai subyek maka kebutuhan secara metodologis untuk mengawali sebuah pendekatan baru dalam tradisi keilmuan yang ada, segera dimulai. Problematika empiris yang menempatkan realitas masyarakat sebagai variabel yang terabaikan pada catatan masa lalu perkembangan pengetahuan di Indonesia, harus sesegera mungkin tergantikan. Yang terbangun sesudahnya adalah perwakilan kaum terdidik untuk belajar didalam proses kehidupan masyarakat, memahami, berdekatan, bersama-sama menikmati proses dan bersama-sama membangun kesadaran. Sebuah kesadaran sebagai individu yang independen ataupun kesadarannya sebagai warga negara yang mempunyai seperangkat hak dan kewajiban, dalam relasinya dengan individu-individu yang lain, dalam bingkai masyarakat yang demokratik. Pada titik inilah imajinasi pengetahuan idealnya menghadirkan kebebasan sekaligus keberdayaan dalam ruang-ruang pengetahuan sebagai sebuah intermediate-structure. Namun tafsiran ini terasa sepihak dan sangat subyektif atas pembacaan pada selembar papan lapuk yang terselip diantara hiruk pikuk agenda-agenda pembangunan pengetahuan disekitar kita.

Terakhir, semua uraian ini hanyalah gumanan sepele yang hadir karena sebuah kesempatan untuk berdiam diri memandangi papan nan unik tersebut, untuk kemudian hadir kesempatan yang lain untuk melamunkannya dan berusaha untuk menghadirkannya dalam sebuah tulisan sederhana ini. Jadi tak perlu ada yang harus dianggap serius ..

Masa Lalu (Rumah) Masa Depan

aku dilahirkan disebuah pesta yang tak pernah selesai,
selalu saja ada yang datang dan pergi hingga hari ini 

Wiji Thukul

Rumah Membentuk Kita : Rumah adalah bingkai kekitaan. Didalam rumah, kita menjadi pemilik sekaligus pengikat atas batas-batas kepemilikan. Rumah menjadi asal muasal sekaligus simpul bagi bangunan nilai, bangunan kedirian, termasuk kesejarahan individu yang melebar dan membentuk kekerabatan yang luas. Dari rumahlah rangkaian panjang narasi dimulai untuk dikemudian diteruskan menjadi jejak-jejak biografis. Rahasia dirakit menjadi ikatan kepercayaan sekaligus memulakan hidup dan kehidupan.

Sejarah individu dirancang dalam alam mimpi orang-orang tua lewat nama-nama yang sematkan sebagai sebuah tolakan untuk capaian tentang masa depan maupun rekaman atas makna-makna subjektif. Cerita masa lalu diperdengarkan sebagai warisan untuk titian masa depan, peristiwa lalu yang terekam dalam foto dipajang sebagai pengingat, dan petuah-petuah kemulian didendangkan sambil mengiringi larutnya malam. Canda cerita dirangkaikan dalam keseharian bersama narasi-narasi monumental yang mengikuti siklus kalender untuk kemudian mengulanginya kembali pada tahun yang akan datang.

Didalam rumah pula semuanya dilakukan, secara rutin. Semuanya menjadi asal muasal dari sebuah aktivitas yang akan memberi dampak bagi aktivitas publik. Dari rumah, potret diri yang ideal dirangkai secara detil untuk dikenakan, mulai pasta gigi, sabun, sampho, minyak rambut, baju dalam, baju yang telah disterika, celana yang telah rapi, lengkap dengan gesper, sepatu beserta kaos kaki. Layaknya make-up maka utuhlah konsep diri kita kemudian. Sebuah kondisi yang seragam, yang terjadi disetiap balik pintu yang tertutup rapat, hampir pada saat yang bersamaan. Serentak dalam hitungan waktu-waktu yang diakumulasikan.

Yang berbeda, dari luar hanyalah pagar yang melintang pada setiap rumah. Pagar seakan-akan menjadi batas pembeda dari satu ruang ke ruang yang lain. Pagar disiapkan dalam kepentingan imaji pemasangnya, imaji tentang keterbukaan, persaudaraan, kepemilikan, kemampuan maupun keamanan. Pagar dihias dalam berbagai motif untuk menyampaikan pesan tentang seisi rumah kepada tetangga, orang yang melintas, pengemis yang mengantri maupun pengamen yang berdendang menunggu segelintir uang logam. Pesan tentang konsep diri kita agar bisa dipahami secara instan.

Pagar lantas urgent karena berada dilingkar paling luar dari rumah. Simpul paling krusial untuk membuat penegasan batas domestik dan privat agar menemukan penjelasannya lewat pagar yang dirangkai didepan rumah. Variasi bentuknya merupakan ekspresi perbedaan yang terdapat didalam rumah. Entah itu akan berkaitan dengan praktek tentang relasi ketetanggaan, ide kapital yang telah terakumulasikan, sekaligus menjadi batas penegas otoritasisasi ruang. Pagar mentransisikan sebuah proses interaksi yang ada, dimana seseorang boleh atau tidak melanjutkannya menjadi pola hubungan lebih lanjut. Rangkaian rumah dengan pagar adalah tempat untuk memulai sekaligus untuk mengakhiri. Bermulanya semua perbicangan kita akan berakhir dengan batasan pagar lalu rumah maupun sebaliknya.

Rumah dan pagar, tak luput pula dari perubahan yang diberbincangkan oleh para teoritisi. Perubahan sebagai keniscayaan tentang sifat dasar manusia untuk berubah. Rekaman perubahan sejatinya terentang teramat panjang namun kenyataan hari ini adalah bagian yang terpisah dari catatan tentang kesadaran manusia tentang akal budi, kebebasan, demokrasi, kapitalisme hingga teknologi. Realitas paling akhir dan kenyataan yang kita hadapi sekarang adalah tarik ulur atas kondisi tersebut.

Kesemuanya bertransformasi, mencari bentuk untuk mengakselerasi keberadaan maupun kebutuhan manusia yang telah teradministrasi baik secara politik, ekonomi dan budaya. Serta menstimulasi proses mobilisasi manusia dalam jumlah yang banyak menuju titik-titik yang menyimpul semua kepentingan yang ada dalam bentuk urban. Terdistribusikannya semangat manusia modern menciptakan mekanisme pencarian kebutuhan hidup diluar sistem masa lalu dan menuntut ruang-ruang baru dari keberadaan zaman untuk menyediakan berbagai harapan tersebut. Modernitas seakan-akan diwakili oleh fenomena terbentuknya kota dan masyarakat kota, sebab kehadirannya menjadi magnet atas gerak mobilisasi dengan beragam kebutuhan : diranah ekonomi, kota menyediakan sarana pemenuhan kebutuhan hidup lewat beragam bentuk, diranah kota pula budaya menjadi bagian dari distribusi aset-aset manusia untuk pembentukkan identitas. Dan dikota pula kita menemukan konstruksi atas kehidupan yang menjanjikan tawaran-tawaran lebih baik dengan semua mekanisme pemenuhannya.

Kita Membentuk Rumah : Realitas yang dinamis juga mengakselerasi tumbuh kembangnya rumah-rumah kita. Progresivitas kota dan masyarakat kota menjadi potret tentang bagaimana rumah berubah lalu menjadi bagian tersendiri dari peradaban manusia. Rumah terbentuk dengan pola berduyun-duyun memadat disisi jalan yang semakin memanjang, berjejal-jejal dengan rumah yang dirombak secara paksa menjadi tempat-tempat pertukaran komoditi manusia modern. Pergerakan untuk perubahan tak lagi dimonopoli oleh manusia semata karena ruang-rumahpun mengalami hal sama sebab pergeseran yang sesungguhnya adalah pergeseran peta mental manusia modern.

Rumah baru dan pagar baru adalah perayaan tentang kegembiraan. Kegembiraan atas kontraprestasi nalar-nalar modern yang terbirokrastisasi. Rumah menjadi sepi dan rapuh oleh minimnya aktivitas keseharian manusia. Tak ada lagi cerita yang diperdengarkan dari yang dulu ke yang kini, karena senyap telah merambat semenjak jam di dinding menjadi penanda dan mempercepat derak kehidupan. Keramaian rumah hanya dipenuhi oleh pertukaran-pertukaran waktu dan uang untuk menjadi tanda adanya kehidupan dirumah-rumah yang semakin membesar dan meningkat. Bagian-bagian rumah hanyalah ruang tanpa makna karena tak ada lagi aktivitas didalamnya. Berbagai tanda kebanggaan dipajang untuk dinikmati dalam kesendiriannya dan semuanya semakin tenggelam oleh menebal, meninggi dan menguatnya pagar-pagar rumah.

Lalu, nalar kehidupan masyarakat kota seakan-akan mutlak rasional. Budaya yang terteknologisasi tak memberi ruang bagi emosi dan kesadaran tentang makna. Irasionalitas hadir dalam bentuk lain dan terasa masuk akal karena menjadi komoditi baru dengan jargon-jargon yang diedukasikan secara massif. Tuntutan agar semuanya rasional otomatis mengabaikan kemungkinan-kemungkinan lain dan kondisi ini menjadi teror yang terus menerus diingatkan oleh kepentingan akumulatif dan kompetisi yang seakan-akan tiada akhir. Dan semuanya kini hadir dirumah kita.

info baik

Bagi teman-sosiologi yang sedang menyiapkan agenda untuk Program Kreativitas Mahasiswa, silahkan bisa donlud panduan PKM 2o12 : dilink berikut ..

http://www.dikti.go.id/?p=5962&lang=id

http://img.dikti.go.id/wp-content/uploads/2012/09/Panduan-PKM-2012.pdf

Pages (16): [1] 2 3 4 » ... Last »
Skip to toolbar