Kampung-Kota

KAMPUNG PERKOTAAN,
Kajian Historis-Antropologis atas Kesenjangan Sosial dan Ruang Kota

Editor Johny A Khusyairi, La Ode Rabani. Cetak 2011, jumlah halaman 405
Australia-Netherlands Research Collaboration, Univ Airlangga, New Almatera
ISBN 978-979-185-323-1

Kumpulan tulisan, pada International Confrence of Urban Kampong, 2010 :
Akhmad Ramdhon/Universitas Sebelas Maret, Annemarie Sammuels/Universititeit Leiden, Asep Suryana/UNJ, Azaz Tigor/Fakta, Dahlia G Setiyawan/University of California, Freek Colombijn/Vrije Universitiet Amsterdam, Haliadi/Univ Tadulako, Lea Jellineck/Monash Asia Intitute, Johny A Khusyairi/Unair, Joost Cote/Deakin University, Karen Bakker/University of British Columbia, M. Nawir/Uplink Indonesia, Meri Erawati/STKIP, Michelle Kooy/University of British Columbia, Ratna Saptari/Universiteit Leiden, Robbie Peters/University of Sydney, Sarkawi B Husain/Unair, Siti Rahma Herwati/LBH Semarang, Tjahyono Rahardjo/Unika Soegijapranata, Yoshi Fajar Kresno Murti/YPR

info pe.a

bagi teman2 yang akan mengajukan kartu rencana studi disemester ini : silahkan anda pakai form terlampir, utk kemudian menuliskan dan memonitoring kegiatan2 anda perbulan, serta dikumpulkan dan kita diskusikan. trims

terlampir : lembar-kerja

fisip uns blogfest 20.11

bareng Wayang Kampung Sebelah, Kamis 8 Desember 2011
pukul 8.45-12.15 wib
di Aula FISIP Univ. Sebelas Maret

Teknologi untuk Demokrasi

catatan untuk fisip uns blogfest 20.11 :

Persoalan yang menimpa Prita Mulyasari, menyeruak kembali selepas putusan terbaru kasasi Mahkamah Agung. Untuk kemudian kita kembali berdebat tentang kebebasan berpendapat, teknologi, hingga arti kekinian demokrasi. Fakta-fakta tersebut menjadi realitas tentang praktek berdemokrasi yang sedang mengalami tantangan di era teknologi. Dalam kasus yang lebih luas, kenyataan yang hampir sama terjadi atas Julian Asengge maupun Muhammed Bouazizi, yang mengharu biru pemberitaan di media. Dengan beragam spektrum, ketiganya hadir oleh beberapa sebab : Prita karena menuliskan surat protesnya di blog yang kemudian menggerakan jejaring dunia maya dalam sebuah gerakan koin untuk prita, Julian karena keberaniannya mengobrak-abrik sistem jaringan informasi diplomatik untuk kemudian dibagikan ke publik dalam sebuah slogan helps wikileaks keep government open yang menggerakkan semangat jutaan volunteer di Eropa untuk mendukung pembebasan dirinya, dan yang terakhir Bouazizi seorang pedagang yang melakukan protes dengan membakar diri untuk kemudian memicu jasmine revolution yang memicu penumbangan rezim yang berkuasa di Timur Tengah. Prita, Julian, Bouazizi ada dalam belahan dunia yang berbeda, lahir dari proses yang beragam dan mempunyai skala  yang tidak sama namun ketiganya terikat dalam sebuah simpul yang sama, simpul teknologi media informasi. Dimana pesan ketiganya menuntut sebuah keadilan dalam praktek politik modern negara-negara modern.

Kompleksitas praktek demokrasi yang direalisasikan mengalami fluktuasi oleh sebab tarik ulur kepentingan untuk melanggengkan status quo disatu sisi dan konsolidasi yang terus menerus oleh mereka yang percaya bahwa demokrasi adalah mekanisme paling ideal untuk mensirkulasikan kekuasaan, disisi yang lain [Samuel Hungtinton, 1992]. Dan demokrasi secara global serta merta menganut keterwakilan lalu menjadi mekanisasi sebagai jalan tengah untuk keluar dari persoalan rumit relasi antara otoritarianisme, oligarki maupun anarkhisme. Indonesia menjadi salah satu diantaranya. Dimana satu dekade terakhir demokrasi mengalami akselerasi yang luar biasa, desentralisasi digaungkan untuk menjadi patok pembeda dengan sejarah politik yang telah bertahan hampir tiga dekade sebelumnya. Akselerasi hadir dalam ragam infrastruktur baru yang terbangun setelahnya, sekaligus mengawali diselenggarakannya pemilihan umum yang lebih terbuka dan kesempatan pada kita semua untuk menentukan pemimpin kita, baik pada skala nasional maupun lokal.

Momentum percepatan atas praktek demokrasi yang ada sedianya linear dengan keterpenuhan harapan rakyat atas tujuan akhir ketika memilih mensegerakan perubahan. Namun kenyataanya tidak menunjukkan kondisi tersebut, kasus yang terurai diatas adalah bentuk dari kegagalan kita mempraktekkan demokrasi sebagai sebuah nilai. Infrastruktur demokrasi yang seharusnya menjalankan peran dan fungsinya mengalami stagnasi oleh sebab saling tersanderanya kepentingan yang ada. Publik yang selama ini menjadi jargon, entah mengapa tidak tahu menahu dan tidak mau tahu atas semua persoalan yang dipergunjingkan sebab jarak yang semakin jauh antara realita dan harapan. Lahir banyak kejenuhan, apatisme maupun kekerasan jalanan sebagai bentuk lain dari kegagalan mekanisme kepentingan rakyat yang telah diwakilkan

Akselerasi Demokrasi

Hadirnya teknologi-informasi yang pada awalnya bernilai ekonomis tiba-tiba menjadi bentuk yang berbeda dari awal kelahirannya. Teknologi serta merta bertransformasi dan dimaknai menjadi sebuah kanal baru atas nama demokrasi oleh kelas menengah, yang seakan-akan tidak bisa lepas dari kebutuhan keseharian mereka untuk mengunakan teknologi. Demokrasi mengalami pengadaptasian dengan cara-cara lebih sederhana, lewat saling berkomentar di jejaring sosial, berbagi pandangan lewat mikrobloging maupun bertukar pendapat lewat teknologi media maya yang semakin individualistik [Manuel Castell, 2004]. Praktek demokrasi menjadi lebih ringan oleh pijatan tombol-tombol yang disediakan oleh teknologi massa dan tak lagi mutlak harus bicara tentang beban berat negara.

Kondisi ini membenarkan rumusan demokrasi sebagai prasyarat bagi tumbuh kembangnya pasar dimana industriallisasi teknologi tumpang tindih dengan kepentingan demokrasi. Tak terasa teknologi terbangun menjadi paradoks yang menunjang praktek demokrasi dalam level-level yang berbeda. Pada ranah elit, teknologi dikembangkan menjadi alat untuk mengukur akseptabilitas, mengukur kemungkinan kalah dan menang, hingga menjadi media utama untuk mengemas dan membangun citra seseorang. Namun pada ranah yang lain, teknologi adalah media pembelajaran demokrasi secara langsung. Tontonan praktek-praktek politik yang sebelumnya tak terjangkau, lewat teknologi media kini mendekat dan melahirkan kesadaran maupun kemauan untuk terlibat lebih jauh. Terbukanya kran-kran ekspresi lewat bangunan media interaktif telah menggejala bahkan beberapa diantaranya menjadikan teknologi sebagai alat untuk menggerakkan sesama demi mewujudkan kepentingan sekaligus menghindari membekunya harapan rakyat atas negerinya.

Prita Mulyasari, Julian Asengge hingga Muhammed Bouazizi hanyalah sedikit wakil keterlibatan untuk mewujudkan harapan tentang praktek-praktek bernegara yang seharusnya. Kehadiran setiap individu yang dulu diabaikan kini dapat dirasakan bersama teknologi dunia maya yang hadir dan merambah ruang-ruang terkecil dari semua aktivitas individu untuk terkoneksi didalamnya. Konten publik menjadi tema paling mudah untuk membangun keterlibatan lebih luas dari semua jejaring sosialita, diluar pesan-pesan individual yang memang menjadi materi awal dan utama dari eksistensi teknologi tersebut. Tumpang tindih antara keduanya tanpa terasa membesar oleh sebab kesamaan perasaan yang dirasakan akibat miskelola Negara dan menjadi embrio bagi lahirnya civil society yang makin kritis, seperti yang diurai Neera Chandoke [1995]. Fragmen-fragmen politik yang disebarluaskan oleh media massa, diserap searah oleh rakyat dan dimaknai kembali lewat kicauan, pikiran maupun tulisan yang termediasi oleh teknologi. Sedikit pesan untuk kepedulian serta merta membesar karena pola tehnik teknologi yang memang mengandalkan jejaring lewat koneksitas dan promosi yang tak terbatas. Pada satu titik, capaian akhir dari pesan tersebut terartikulasikan menjadi sebuah gerakan sosial baru dalam beragam bentuk dan gerakan oposisi Malaysia yang mengambil tagline Bersih 2.0 menjadi contoh paling mutakhir.

Makna media sebagai pilar demokrasi semakin dikuatkan oleh keterlibatan yang lebih luas untuk menyebar luaskan berita, pesan dan harapan yang tak lagi mengadopsi logika searah. Mengawasi dan mengevaluasi kerja-kerja negara tak lagi sepihak dimonopoli oleh para jurnalis. Teknologi komunikasi massa yang mengadopsi fitur-fitur jejaring sosial tanpa sadar menjadi tehnik monitoring paling efektif dari rakyat atas harapan terhadap bangsanya. Tanpa tersekat-sekat oleh standartisasi kelas-kelas sosial ekonomi, identitas maupun budaya. Teknologi memberi ruang bagi kita untuk terlibat dan peduli terhadap apa yang tuliskan Prita, apa yang dilakukan oleh Julian, dan apa yang terjadi pada Bouazizi, kesemuanya melintas tak mengenal belahan ruang dan waktu. Jalinan solidaritas baru terikat oleh simpul-simpul teknologi. Simpul untuk mengawal demokrasi pada rel yang seharusnya, yaitu demokrasi sebagai jalan untuk memperjuangkan keadilan keadilan, kesejahteraan dan kehidupan lebih baik. Teknologi menjadi cara baru meluaskan demokrasi sekaligus membangun kewargaan lewat partisipasi sehingga makna partisipasi untuk demokrasi tak lagi tereduksi hanya dalam rentang waktu lima tahunan semata. Namun terurai dalam tenggat keseharian kita untuk sekedar merefleksikan nasib ditengah-tengah ketidakpedulian negara terhadap warganya. Untuk itu, haruskah semuanya kemudian dimaknai subversif ?

uji kd 2 ; soskot

bagi teman2 yang sudah menyiapkan paper, mendiskusikannya dan mendapat masukan, silahkan publikasikan di blog anda masing2 lalu mempostingkan url-nya ke comment blog saya dibawah ini : trims

uji kd 2 ; tsm

bagi teman2 yang sudah menyiapkan paper, mendiskusikannya dan mendapat masukan, silahkan publikasikan di blog anda masing2 lalu mempostingkan url-nya ke comment blog saya dibawah ini : trims

uji kd 2 ; tsp

bagi teman2 yang sudah menyiapkan paper, mendiskusikannya dan mendapat masukan, silahkan publikasikan di blog anda masing2 lalu mempostingkan url-nya ke comment blog saya dibawah ini : trims

info baik

Sedianya kita akan adakan diskusi tamu bareng Poppy Dharsono  http://rapod.net/profil/poppy-dharsono pada Jumat 18/11/2011 di ruang seminar fisip universitas sebelas maret pukul 13-15.30 wib. untuk itu kehadiran teman-teman untuk menjadi bagian dari diskusi kecil tersebut menjadi penting. Trims

media [membunuh] demokrasi

Akhmad Ramdhon @ Solopos, 12/11/2011

Hiruk pikuk diskusi tentang demokrasi, kian hari kian dramatis oleh beragam tabir persoalan yang terurai dan dipaparkan oleh media kepada kita sehari-hari. Ada berbagai pihak yang menempatkan diri pada posisi yang senantiasa bertahan atas beragam persoalan yang ada, untuk kemudian berargumen tentang keberhasilan pemerintahan sekaligus merujuk posisi ini pada eksekutif. Dan disisi yang lain, dengan jumlah yang jauh lebih banyak, mengungkapkan beragam kegagalan tentang proses penyelenggaraan proses bernegara lalu menyebutkan posisi tersebut pada batas yang tidak tegas namun mereka menyebutnya oposisi. Drama keduanya hadir lewat beragam kasus korupsi, politik anggaran hingga reshuflle kabinet dengan beragam latar yang menyertainya. Semuanya hadir ditengah-tengah kita lewat media-massa untuk kemudian melibatkan kita dalam beragam bentuk ekspresi dan pada titik inilah kita mengenalnya sebagai ruang publik politik dimana media hadir sebagai penyangganya.

Sebagai sebuah pilar, ruang publik kemudian termekanisasi lewat keberadaan media. Media lalu bekerja melakukan pertukaran informasi dalam semua relasi politik, aktivitas-komunikasi politik eksekutif, legislatif dan yudikatif, kemudian didisseminasikan keluar dari kepengapan batas-batas ruang politik formal untuk kemudian menjadi bagian dari publik yang lalu mendiskursuskannya [Jurgen Habermas, 1984]. Potret tersebut menjelaskan kenyataan sekaligus memberi bukti atas kegagalan terciptanya ruang publik politis yang mandiri. Otoritarianisme eksekutif terlanggengkan oleh ketidakberdayaan legislatif dan yudikatif, yang mana eksistensi keduanya tidak lebih dari lembaga-lembaga pembenaran. Konflik dan saling sandera kepentingan menjadi mekanisme negosiasi antara yudikatif dan legislatif dalam memproduksi berbagai kebijakan yang ada. Semuanya hadir dan telanjang dimata publik, lalu menciptakan krisis legitimasi yang menyeruak hampir dalam semua turunan lembaga-lembaga negara oleh publik.

Ruang-ruang politik bagi publik hanya menyisakan pilar media sebagai bentuk lain dari ekpresi atas demokrasi. Media harus berusaha untuk tetap berada dalam kebebasannya sebab kehadiran publik untuk melakukan pengawasan atau penuntutan atas kebutuhan politiknya hanya dapat bersandar pada media, dimana beragam komunikasi antar individu disuarakan dan diartikulasikan. Maka media yang merepresentasikan ruang politik bagi publik kemudian menjadi variabel yang penting dalam menjalankan roda-roda demokrasi. Namun kondisi tersebut mesti diuji oleh nalar kekebasan yang lahir dari rahim demokrasi yaitu tantangan atas hadirnya modal sebagai bagian yang tak terpisahkan dari dunia media-massa sebagai industri yang modern.

Keterancaman

Diantara semua narasi tentang polemik demokrasi yang hadir di media, mengendap pula keterancaman baru yaitu media yang kini harus berhadap-hadapan langsung dengan modal sebagai basis dasar dari dinamika kapitalisme global. Tren akumulasi kapital oleh para pelaku industri media besar yang kini merasakan adanya kebutuhan untuk masuk dan menjadi bagian  dari sistem informasi yang selama ini kian mapan. Kebutuhan akan keterikatan pada media minimal didasarkan pada dua aras kebutuhan, yang pertama adalah kebutuhan untuk menempatkan media menjadi bagian penting dari instrumentasi industri sebagai mekanisme campaign dan mereproduksi berbagai kerangka nilai tentang konsumerisme. Sekaligus mengakselerasikan masyarakat dalam sebuah tatanan baru yaitu mode of consumption, seluas-luasnya, seintensitas mungkin, dan cuman media yang mempunyai kemampuan tersebut. Kebutuhan yang kedua, mengembangkan media (secara an sich) menjadi sebuah sistem industri baru, yang mengelola berbagai kebutuhan baru pada konstruksi masyarakat kontemporer. Dimana terjadi inovasi atas beragam kemampuan individu yang kemudian terkomodifikasi dan menjadi pemuas hasrat individu yang lain, dengan nama entertainment.

Dua fakta tersebut, cukup memadai untuk menjelaskan regulasi kepemilikan modal atas media. Yang mana, situasi tersebut mempertemukan antara nalar-kepentingan ekonomi dengan nalar-kepentingan politik dan pada akhirnya mematrerialkan hasrat berkuasa dan menguasai pihak lain. Sebagai bukti, gelombang merger dan akuisisi pada media-media membentang dari Amerika, Eropa, Asia bahkan Indonesia. Sebuah kondisi yang mempunyai kecendrungan yang sama dengan paparan fakta tersebut bisa dilihat pada meningkatnya jumlah laba yang diperoleh Shin Coo perusahaan komunikasi yang dimiliki oleh Thaksin Sinawatra, selepas tiga tahun menjadi perdana menteri. Atau Berlusconi yang memiliki Mediaset Group dan menguasai sembilan puluh persen pasar dinegaranya, dengan pemasukan iklan sembilan puluh enam koma delapan dari seluruh iklan yang tersedia  [Ignatius Haryanto, 2004]

Kepemilikan media yang terpusat pada beberapa pemilik modal, pada akhirnya memberi dampak yang luar biasa luas bagi kebutuhan dasar individu dalam ruang-ruang publik dan terutama untuk kebutuhan publik. Kepemilikan terhadap ruang publik mengalami penyempitan (privatisasi) dalam mana seharusnya tidak terjadi. Media yang epistemologinya adalah representasi atas ruang keterwakilan individu secara kolektif kemudian kehilangan axiologinya karena masalah kepemilikan. Sehingga proses demokratisasi kemudian berjalan timpang karena tampilnya mekanisasi yang hanya menghadirkan kepentingan pemodal dan mengabaikan kepentingan publik. Dampak tersebut makin massif, takkala skema Anthony Giddens [1994] tentang relasi negara, industri dan modal, bersinggungan pada satu kepentingan yaitu kekuasaan. Maka kepentingan individu makin tereduksi dan makna kepentingan publik serta merta tanggal dengan sendirinya. Otomatis gerak laju demokrasi berjalan ditempat.

Pergeseran orientasi media lalu termanifestasikan dalam kebutuhan para kaum pemilik modal untuk mewujudkan semua kepentingannya sekalipun menjadi otoritarianistik hingga kepentingan yang lebih dangkal yaitu mengkebiri kemampuan media dalam mengembangkan nalar publik dengan tetap berbasiskan pada kebutuhan untuk mengakumulasikan modal. Media tak lagi mampu menopang demokrasi karena transformasi kekuatan modal yang membuatnya rapuh dan tak lagi menjadi energi bagi kesadaran publik untuk berpolitik. Dan keyakinan kita untuk menyandarkan pilar demokrasi pada media-massa kini akan menghadapi persoalan serius. Ketika hari-hari ini kita melihat para pemilik media yang telah mengakumulasikan kemampuan modalnya, beramai-ramai mendeklarasikan kepentingan politik mereka untuk sebuah fragmen ditahun 2014. Maka, akan seperti apa masa depan demokrasi kita tanpa kehadiran media yang sesungguhnya ?

info soskot

rencana tugas soskot adalah menyusun profil anak muda kota, dengan beragam ekspresi yang ada. baik musik, seni rupa, sastra, film dan sebagainya. tekanan tugas ini dibangun diatas kepentingan untuk mengenal, mendekat dan mengetahui sesama anak-anak muda. dan ternyata ada bahan terkait yang peroleh dari link yang diinfokan kawan Antariksa via kunci : http://kunci.or.id/articles/video-activism-and-online-distribution-in-post-new-order-indonesia/

dan kita bisa mendapatkan : video chronic

Pages (14): [1] 2 3 4 » ... Last »